Alice Waters adalah seorang chef dari California, AS, yang juga seorang aktivis pangan yang percaya akan filosofi memasak hanya dengan bahan-bahan segar dan berkualitas dan sesuai dengan musim. Alice juga adalah wakil presiden Slow Food Internasional dan sangat berkomitmen pada “edible education“, yaitu pendidikan yang memanfaatkan makanan sebagai media untuk mengajarkan nilai-nilai, pengetahuan dan ketrampilan yang dibutuhkan oleh manusia dan masa depan yang berkelanjutan.

The Grassroots of the Revolution: Edible Education adalah konferensi yang digagas oleh Alice Waters di Terra Madre 2012 untuk menunjukkan perkembangan gerakan edible education di berbagai negara. Makanan adalah media yang sangat tepat untuk mengajarkan kepada anak-anak tentang nilai-nilai yang kita butuhkan hingga bisa hidup bersama dengan harmonis di planet ini. Slow Food menyebutkan bahwa Edible Education adalah solusi yang paling lezat dan demokratis atas segala masalah yang kita hadapi saat ini.

Alice Waters, wakil presiden Slow Food, seorang chef dan pengagas konsep edible education, mendirikan  Edible Schoolyard Project untuk mempromosikan pendekatan yang mengedepankan kesenangan dan akses kepada makanan berkualitas untuk semua orang. Dengan cara ini kita bisa menemukan solusi yang demokratis akan “indoktrinasi yang hebat akan bangsa fast food, yang dimulai dari Amerika Utara dan menyebar ke berbagai negara seperti racun.”

Dikembangkan pertama kali di Berkeley Middle School dan telah disempurnakan lebih dari 16 tahun, proyek ini mengajak murid untuk terjun ke kelas yang berupa kebun dan dapur, dan menempatkan makanan sebagai pusat dari kurikulum. “Ketika anak-anak menumbuhkan sendiri makanan mereka, mereka ingin menikmatinya… Ide dasarnya adalah memberdayakan anak-anak melalui pendidikan interaktif sehingga mereka mampu membuat keputusan sendiri mengenai apa yang ingin mereka makan, menunjukkan indahnya alam dan penciptaan, serta membawa kembali anak-anak kembali ke indera mereka.”

Hal serupa juga dilakukan oleh Stephanie Alexander, chef dari Australia dan pendiri Stephanie Alexander Kitchen Garden Foundation, yang menyatakan bahwa motivasinya melakukan edible education berasal dari kepercayaan yang kuat akan kekuatan makanan. Dimulai tahun 2001, saat ini programnya menerima bantuan dana sekitar 20 juta dolar dari pemerintah dengan 270 sekolah turut berpartisipasi.

Setiap sekolah didukung fasilitas kebun pangan dan dapur dengan peralatan yang lengkap serta staf terlatih yang bisa mengantarkan kurikulum yang terintegrasi. “Yayasan menaruh perhatian yang seimbang pada penanaman, pemanenan, penyiapan makanan dan berbagi, dan semua anak terlibat aktif di semua aspek tentang kebun dan penyiapan makanan,”ungkap Stephanie. Mereka juga duduk bersama saat menikmati dan berbagi makanan, sehingga mereka memahami arti pentingnya kebersamaan dan saling berbagi dengan sesama.

Di sisi dunia yang lain, di Indonesia, 80% anak menderita malnutrisi dan wild-food garden digunakan sebagai sarana edukasi untuk mengajarkan kepada anak-anak dan keluarga bahwa mendapatkan makanan yang berkualitas dan bergizi tidak perlu mahal. Indonesia kaya akan sumber daya hayati, memanfaatkannya secara bijak akan mampu meningkatkan status gizi masyarakat dan mewujudkan kemandirian pangan serta menjaga kelestarian hayati. Mantasa berusaha mempromosikan tanaman yang sering dianggap sebagai “makanan untuk orang miskin” sehingga lebih dihargai dan diketahui manfaatnya.

Dari Uganda, Noel Nanyunja sebagai guru sekolah sekaligus koordinator nasional dari proyek Slow Food’s Thousand Gardens in Africa mengungkapkan bahwa fokus mereka adalah mengubah kegiatan bekerja di lahan pertanian sebagai hukuman dari sekolah, dan sebaliknya mendukung generasi baru untuk bekerja sebagai petani dan pengambil kebijakan. peta dunia “Kebun tidak perlu besar, namun bisa dimulai dari kebun seukuran jendela. Segala tempat bisa menjadi kebun, bahkan kaleng pun bisa dijadikan kebun. Kebun juga menolong kami untuk menyelesaikan konflik. Semua orang butuh makanan. Kami bertindak praktis, yaitu mengenyahkan kelaparan, dan kebun adalah pendekatan yang praktis.”

Konferensi ini menitikberatkan bahwa makanan bisa menjadi media yang sangat hebat sehingga bisa mengubah kebiasaan (mengenai pangan) dan tingkah laku dari generasi muda sehingga mereka lebih menghargai alam dan manusia di sekitar mereka.

Terjemahan bebas dari artikel The Grassroots Revolution http://www.slowfood.com/international/food-for-thought/focus/153104/the-grassroots-revolution/q=26B487.

Comments

Powered by Facebook Comments